Selasa, 01 Mei 2012 - 13:23:53 WIB
Pesta Budaya IRAU
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Kesenian & Budaya - Dibaca: 5439 kali

Pesta Budaya IRAU adalah kegiatan yang dilaksanakan secara semarak sekali dua tahun.Pada Tahun 2012, dilaksanakan IRAU besar yang menampilkan berbagai macam atraksi seni dan budaya. Beberapa kegiatan adat dan budaya yang disajikan oleh suku-suku yang ada di Kabupaten Malinau mendapat perhatian dan antusiasme masyarakat, terutama tetamu dari luar Kabupaten Malinau. Berikut adalah beberapa adat dan budaya yang telah ditampilkan pada IRAU tahun 2012.

 

SINOPSIS PROSESI ADAT TIDUNG

TATA CARA PENGOBATAN DAN MENURUNKAN KELANGKANG MAHLIGAI DI BUMI DENGAN JUDUL:

RAJA BUANA ALAM LESTARI

 

                Tari dan lagu ini diawali dengan sebuah syair yang disebut SELUDEN, bermakna legenda, cerita hikayat atau sejarah mengenang peristiwa kejadian masa lalu yang dahsyat dan menakjubkan seperti riwayat raja-raja, pahlawan, pendekar, atau pejuang.

                Disekitar abad XVII, disebelah timur pada jaman itu terdapat suatu wilayah kerajaan di bagian utara Kalimantan Timur dengan sebutan Tanah Berayu yang dihuni oleh salah satu rumpun etnis yang disebut Suku Tidung.

                Pada masa itu suku Tidung bermukim di pesisir pantai dan sungai, hidup sederhana sebagai nelayan dan petani, bercocok tanam dan berburu.  Suku Tidung saat itu sudah mengenal adat istiadat dan berbudi luhur.  Mereka patuh, taat dan setia terhadap raja, pemimpin, seperti Penggawa.

                Salah satu tradisi tata cara pengobatan kami gelar pada hari ini dengan judul Raja Alam Buana Lestari yang menggambarkan tata cara pengobatan dan menurunkan kelangkang mahligai di pohon dan di bumi.

                Pada jaman itu, masyarakat Tidung belum sepenuhnya memeluk agama Islam.  Hal ini dikarenakan letak geografis yang masih terpencil, namun  mereka percaya bahwa kehidupan di bumi ini adalah ciptaan Sang Penguasa.  Hal inilah yang menjadi latar belakang cerita tradisional suku Tidung didalam melaksanakan penyembuhan kepada orang sakit sebelum memeluk agama Islam.

                Bila terjadi bencana alam, atau orang sakit, maka suku Tidung membuat upacara pengobatan dengan berdialog kepada kekuatan gaib alam semesta.   Kemudian mereka membuat kelangkang mahligai untuk diantar ke suatu tempat atau pohon besar yang dipercaya sebagai media untuk berdialog dengan kekuatan gaib tersebut.  Namun seiring dengan perkembangan jaman dan masuknya budaya dan agama Islam, maka tata cara pengobatan tersebut sudah tidak dilakukan lagi.

 

SYNOPSIS OF TIDUNG TRIBE RITUAL

WAYS OF TREATMENT AND DROP OFF THE OFFERING ON THE EARTH CALLED: RAJA BUANA ALAM LESTARI

                The dance and the song are preceded by a lyric called SELUDEN which means a legend, a story, or history about astonishing and wonderful past time events such as the acts of the kings, heroes, warriors or fighters.

In the fifteenth century, there was an area on the north of East Kalimantan called Land Berayu which was occupied by a tribe called Tidung Tribe.  At that time, they lived in coastal and rivers, lived in a simple way as fishermen and farmers, grew their crops and hunting.  They knew their customs very well and noble-minded.  They obeyed and had loyal attitude to their king or leader.

One of the tradition in healing which is held today entitled Raja Alam Buana Lestari that describes the way of treatment and the drop off the offering to a tree on the earth.  At that time Tidung Tribe not yet fully embraced the religion of Islam because geographically, they still lived in desolate area.  But they already believed that living in this earth was about trusting The Ruler.  These matters are the background of a traditional story from Tidung Tribe in healing the sick people before becoming Islam believer.

If there is a disaster or people who experience sick, Tidung Tribe will hold a healing treatment by making a dialogue with the supernatural powers of the universe.  Then, they make the offering called kelangkang mahligai that will be taken to a big tree and  is believed as a media to have a dialogue with the supernatural powers.  Along with the changing times and the entry of Islam, a kind of this healing ritual is not being performed anymore.

 

 

SINOPSIS UPACARA ADAT DAYAK LUNDAYEH

PENOBATAN GELAR FADAN LIU’ BURUNG KEPADA BUPATI MALINAU DR. YANSEN TP, M.SI

 Fadan Liu’ Burung adalah nama dan sekaligus gelar seorang pemimpin dan pahlawan suku Lundayeh yang menurut legenda Mumuh memiliki charisma dan kekuatan yang tak tertandingi oleh siapapun.   Kehebatan dan kekuatan yang dimiliki oleh Fadan Liu’ Burung digunakan untuk menyelamatkan masyarakatnya yang tertindas dimanapun berada bahkan dalam legenda atau “mumuh” dikisahkan Fadan Liu’ Burung temiting maya’ yang langit, ngurar laput buda’, fad medcing lun langit bata’ dan menggunakan pelangi sebagai jembatan dari bumi menuju angkasa hanya untuk menyeleamatkan masyarakat pengikutnya yang ditawan penguasa angkasa.  Fadan Liu’ Burung juga dikenal sebagai pemimpin yang penuh kasih dan rendah hati yang menyebut nama besarnya dengan istilah seh ngadan kudeng kini, ngadan dat tidcan remarar, ini uwi I Fadan Liu’ Burung, meski kehebatan dan kepahlawanannya telah terdengar sampai ke ujung bumi. 

Sepanjang masa kekuasaannya Fadan Liu’ Burung menggunakan kehebatan dan kemampuannya untuk mempertahankan serta memperjuangkan terciptanya ketentraman dan hidup yang penuh damai bagi masyrakat pengikutnya.  Dalam lantunan puji-pujian Siga’, Fadan Liu’  Burung juga dikisahkan sebagai pemimpin yang bijaksana bahkan kepada lawan dan tawanannya, yang dipercaya dan mempercayai para pengikutnya yang diberi peran dan tanggung jawab sesuai dengan talenta yang dimiliki, dan kemanapun Fadan Liu’ Burung pergi, para pengikutnya selalu menyambut dengan Ferisanang, Feritubang, Feritubung dan melantunkan Siga serta fekuab  karena sukacita akan pemimpinnya. 

Demikianlah makna Pemberian gelar Fadan Liu’ Burung sebagai seorang Pemimpin yang didambakan oleh masyarakat Lundayeh, seorang pemimpin yang membawa masyarakat kepada perubahan menuju kemajuan untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Penobatan dan pemberian gelar Fadan Liu’ Burung kepada Bupati Malinau, adalah harapan masyarakat Lundayeh agar kekuatan, kebijaksanaan dan kemampuan yang dimiliki oleh Fadan Liu’ Burung dijiwai dan tersalur dalam diri sang pemimpin.

 

SYNOPSIS OF DAYAK LUNDAYEH RITUAL

THE ENTHRONEMENT DEGREE FADAN LIU’ BURUNG TO BUPATI MALINAU, DR. YANSEN TP, M.SI

                Fadan Liu’ Burung is a name and at once a degree of a leader and a Lundayeh’s hero, which according to a legend of Mumuh, has charisma and incomparable power.  Fadan Liu’ Burung used his greatness and power to save afflicted people wherever they were and used a rainbow as a bridge from the earth to the outer space to save his people that were held hostage by the ruler of the space.  Fadan Liu’ Burung  was also known as a loving leader and had humble heart, although his greatness and mighty was heard even to the ends of the earth.

           

During his reign Fadan Liu’ Burung used his power and greatness to defend and fight for the creation of peace for all people.  In the praise called Suga, Fadan Liu’ Burung also told as a wise leader even to his enemy and prisoner.  He trusted his followers and shared the joys with them. 

This enthrone of degree Fadan Liu’ Burung  to Bupati Malinau actually is a hope of Lundayeh people so that strength, wisdom, and capability of Fadan Liu’ Burung imbued and flows within the leader soul.

 

SINOPSIS UPACARA ADAT DAYAK TINGALAN

PENGOBATAN ALTERNATIF TRADISIONAL LUMIMBAI

Lumimbai  berasal dari kata limbai yang berarti hubungan roh leluhur dengan manusia yang hidup melalui seseorang yang telah dipilih roh itu sendiri untuk dapat dipakai menolong umat manusia.  Roh dalam bahasa Dayak Tingalan adalah Inaning, berasal dari langit ke tujuh, tempat penyempurnaan semua ciptaan.  Waktu yang biasa digunakan  untuk upacara ini adalah 21 hari dua jam.  Tetapi berhubung untuk peragaan saja maka hanya memakan waktu 1,5 jam. 

 

SYNOPSIS OF DAYAK TINGALAN RITUAL

THE TRADITIONAL ALTERNATIVE MEDICINE LUMIMBAI

                Lumimbai , from the word Limbai, means the relationship of the ancestors that lived through somebody that was chosen by the spirit to help the people.  The spirit in Tingalan’s language called Inaning, came from the seventh sky, the place of all creatures refinement.  Usually, this ritual takes 21 days and two hours.  Only for this short performance takes one and a half hour.

               

SINOPSIS UPACARA ADAT DAYAK PUNAN

PA’NOH : Budaya dan Tradisi Perkawinan

                Upacara ini diangkat untuk memperkenalkan budaya dan tradisi suku Dayak Punan dalam proses secara turun temurun kepada masyarakat luas maupun kepada kalangan suku Dayak Punan  yang saat ini mengalami pergeseran nilai sakaral perkawinan oleh budaya lain.

                Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam perkawinan suku Dayak Punan adalah tatanan nilai etika dan estetika, kebersamaan, berbagi, dan keluhuran nilai membangun sebuah keluarga yang mandiri dan berbudaya. 

                Prinsip perkawinan dalam masyarakat suku Dayak Punan adalah membangun keluarga baru yang dapat menghasilkan keturunan dan membina keluarga dan dapat memberi kontribusi langsung kepada komunitasnya dalam mempertahankan dan melestarikan adat budaya leluhurnya secara berkesinambungan. 

 

SYNOPSIS OF DAYAK PUNAN RITUAL

PA’NOH : Culture and Tradition of Marriage

                This ritual is held to introduce the culture and tradition of Dayak Punan as a hereditary manner to the public and to all Dayak Punan people itself because the culture now experiencing the shifting marriage sacred value  by another culture at the present time.

                Culture values in Dayak Punan’s marriage are the order of values about ethic, aesthetics, togetherness, sharing and the nobleness in building an independent and cultural family.

                The principal of marriage in Dayak Punan people is about to form a new family that generating the descendants that will be able to give contribution in maintaining and preserving the ancestral culture continuously. 

 

 

 SINOPSIS UPACARA ADAT BULUNGAN

PROSESI ADAT BESUNOT DAN BUNGA MALAI TERTINGGI

                Prosesi adat BESUNOT merupakan salah satu adat istiadat ulun Bulungon  yang kental dengan nuansa Islami.  BESUNOT adalah salah satu syariat Islam yang dilaksanakan pada saat anak telah menginjak akhil baligh.  Anak yang melakukan BESUNOT adalah anak laki-laki dan perempuan.

                Sebelum adat BESUNOT, malam harinya dilaksanakan prosesi adat BEJEPIN yang dilaksanakan di rumah orang tua si anak yang akan disunat.  Setelah itu dilaksanakan prosesi BEPUPUR diiringi dengan musik hadrah.Keesokan paginya dilaksanakan MENDUS (mandi) bagi anak yang akan disunat.  Dengan tujuan untuk membersihan diri baik lahir maupun batin.  Setelah itu barulah prosesi BESUNOT dilaksanakan.  Si anak yang di sunat tidak boleh keluar rumah.  Setelah tiga hari, apabila sunatan si anak telah kering barulah si anak boleh muncit ruma’  atau keluar rumah. 

                Sedangkan BUNGA MALAI adalah salah satu seni budaya  ulun Bulungon  terbuat dari kertas dan bambu yang memiliki nilai spiritual dan selalu berhubungan dengan Nasi Rasul.  Seni  budaya ini kental dengan nuansa Islami karena mengisahkan peristiwa akbar di Jabal Rahma ketika Siti Hajar berusaha mempertahankan hidup bersama anaknya Ismail dan beberapa kali mengelilingi Jabal Rahma (gurun) untuk mencari setitik air dan pada akhirnya menemukan telaga zam-zam.  Sedangkan Nasi Rsaul menggambarkan keadaan alam berbukit di tengah gurun pasir pada peristiwa tersebut.

 

SYNOPSIS OF DAYAK BULUNGAN RITUAL

RITUAL OF BESUNOT  (CIRCUMCISION) AND THE HIGHEST BUNGA MALAI (MALAI FLOWER)

                The ritual of BESUNOT is one of BULUNGAN tradition that influenced by the Islamic nuance.  It is one of Islamic syariah that is held when a child, whether a girl or a boy, reaches akhil baligh (when a child reaches his puberty). 

                Before BESUNOT is carried out, people will hold a traditional dance called BEJEPIN in the house of the parents of the child to be circumcised.  Then, they will carry out the procession of BEPUPUR accompanied a music called Hadrah.  The next morning they come to MENDUS procession or taking a bath for the child to be circumcised as a sign of cleaning the inner and outside of the body.  After that, BESUNOT is carried out.  The child in circumcision is not allowed to go out of home for three days waiting for the wound to get dry and after that the child is allowed to get out of home.

                While BUNGA MALAI (MALAI FLOWER) is one of the art from BULUNGON, made of paper and bamboo that has spiritual value and always get connected with NASI RASUL (RASUL RICE).  This art influenced so much by the nuance of Islam because it tells a very big event in Jabal Rahma, when Siti Hajar tried to survive with her son Ismail.  They turned around Jabal Rahma ( a desert ) for several times to find water and found a lake at last.  NASI RASUL (RASUL RICE) describes the nature that has hills in the middle of the desert at that time.

               

 

SINOPSIS UPACARA ADAT  DAYAK KAYAN: UFAH

Upacara adat Ufah Kayan ialah  upacara pentabisan bagi anak laki-laki yang berumur antara 6 bulan sampai dengan 1 tahun. Menurut tradisi Kayan pada zaman nenek moyang dahulu Ufah hanya berlaku bagi anak laki-laki tanpa memandang latar belakang keluarga atau keturunan di kalangan suku Kayan. Upacara Adat Ufah dilaksanakan pada suatu tempat di luar rumah panjang yaitu sebuah kemah yang di buat sederhana diberi atap dengan daun pisang atau daun alang-alang  dan dilakukan pada pagi hari sekitar jam 08.00 sampai selesai yang lamanya tergantung dari jumlah anak laki-laki yang di tabiskan. Pimpinan Ufah adalah seorang kakek yang telah berjaya dalam medan pertempuran melawan musuh, sedangkan anak laki-laki yang akan di tabiskan adalah anak yang telah dipilih dan layak untuk ditabiskan dalam Upacara Adat Ufah.

Ufah ini mempunyai tujuan mempersiapkan seorang pemimpin sejak dini agar pada saat menginjak umur dewasa dapat menjadi seorang pemimpin yang tegar dalam pendirian, kesatria, disiplin yang tinggi. Sifat seperti inilah yang diharapkan berlaku dikalangan suku Kayan dalam upaya mempersiapkan pemimpin kelak.

Dalam tradisi suku Kayan pada tempo dulu apabila akan melaksanakan upacara adat apapun jenisnya termasuk upacara Adat  Ufah terlebih dahulu wajib mendirikan tombak pusaka Kayan yang disebut Bakin Kelikah sebagai simbol di mulainya pelaksanaan Upacara Adat, tidak ada seorangpun yang bisa merebahkannya selama kegiatan Upacara Adat berjalan. Bakin Kelikah dibuat dari besi keluh dengan ukuran 1 Meter dan tiang dibuat dari kayu Merang atau kayu Gare yang ukurannya sebesar 10 x 10 cm dan panjang  4 meter. Jika Bakin Kelikah itu direbahkan maka pelaksanaan Upacara Adat telah berakhir.

Hudoq Aruq dalam upacara Adat Kayan juga tampil dalam berbagai wujudnya yang menurut kepercayaan nenek luhur merupakan penjelmaan dewa yang datang dari alam khayangan dengan membawa misi perdamaian, kebahagiaan, kesuburan bagi tanaman dan kesejahteraan untuk umat Manusia serta menghalau segala bentuk permusuhan serta menghindari masyarakat dari berbagai macam penyakit. Dalam tampilan Hudoq Aruq ini selalu diiringi dengan tarian yang dinamakan tarian Hifan Sau yang dimainkan laki-laki dan hifan Jat Alat yang dimainkan para wanita dengan variasi hantakan kaki yang berbeda-beda. Tarian Hifan Sau dan Hifan Jat Alat adalah suatu rasa  atas kehidupan yang aman dan damai serta kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat Kayan.

 

SYNOPSIS OF DAYAK KAYAN RITUAL : UFAH

                Traditional ceremony UFAH KAYAN is a ritual of baptism for a boy between six months until a year old.  According to elderly people of Dayak Kayan, UFAH is a ritual only for a boy with any background family.  UFAH will be held out of a long house, in a little simple tend, with the roof made from banana leaves or grass weeds.  It is always carried out at eight in the morning.  The duration will depend on how many boys that will be baptized.  The man who led this ritual should be an old man that had won a war, and the boy that will be baptized should be chosen as a deserved one. 

                The aim of UFAH is to prepare a leader so that when he grows up, he will become a strong and discipline person.  Those are kind of attitudes that are expected to be inside a leader.

                In Dayak Kayan’s tradition long ago, before holding any kind of tradition, people should build a heritage of spear called Bakin Kelikah,as a symbol that the traditional ceremony began.  Nobody could lay it down during the event took place.  Bakin Kelikah (spear) is made of an iron with the size 1 meter.  There are pillars made of  Merang wood or Gare wood in size 4 meters long.  If it lays down, then the event will be over. 

                Hudoq Aruq in Kayan’s traditional ceremony will also perform in many kind of forms. It is believed by the ancestors as the incarnation of gods from heaven that bring mission of peace, happiness, fertility for plants, prosperity for all people, banish the hostility, and prevent the disease.  Hudoq Aruq performance always accompanied by the dance called HIFAN SAU which is danced by men and HIFAN JAT ALAT which is danced by women with the difference of the beat of the feet.

 

 



Copyright © 2013 by PDE Malinau All rights reserved.