Rabu, 27 November 2013 - 07:14:09 WIB
Eksplorasi Destinasi Wisata di Tanah Apau Kayan
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Pariwisata - Dibaca: 8150 kali

“Bagaikan air dengan ikan. Ikan tidak bisa hidup tanpa air, ikan bernafas dan mencari makanan dalam air. Begitu juga mereka, tidak bisa hidup tanpa hutan yang lestari…”

Indonesia memiliki beragam tempat wisata yang indah nan eksotis yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Salah satu diantaranya adalah Tanah Apau Kayan. Terletak di jantung pulau Kalimantan (in the Heart of Borneo), tempat ini merupakan kawasan yang penuh dengan nuansa sejarah dan budaya. Pemandangan alam yang elok dengan udara sejuk di ketinggian sekitar 600 mdpl turut menambah daya tarik kawasan ini sebagai destinasi wisata.

Sejarah Apau Kayan

            Apau Kayan (Apo Kayan) berasal dari nama sungai besar Kayan. Dalam wilayah administratifnya saat ini termasuk ke dalam Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Kawasan ini terbagi menjadi kecamatan Kayan Selatan, Kayan Hulu, Kayan Hilir dan Sungai Boh. Beberapa desa yang telah dikenal para wisatawan antara lain Long Ampung, Long Nawang, dan Data Dian. Apau Kayan memiliki hubungan erat dengan sejarah masyarakat Dayak. Dahulu, tempat ini ditemukan oleh orang-orang Dayak Kenyah asal Lundayeh pada abad ke-16, untuk kemudian menjadikannya sebagai pusat perkampungan suku dan anak suku (uma) Dayak Kenyah. Pada abad ke-18, setelah berkembang pesat masyarakat Apau Kayan mulai eksodus dan menyebar ke wilayah Kabupaten Kutai menyusuri Sungai Mahakam, memasuki daerah Berau, terus ke hilir Sungai Kayan menuju Tanjung Peso, Tanjung Palas dan Tanjung Selor (Thomas Djuma, 2009).

 

Hutan dan Masyarakat Apau Kayan

Bagi masyarakat Apau Kayan, hutan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupannya. Bagaikan air dengan ikan. Ikan tidak bisa hidup tanpa air, ikan bernafas dan mencari makanan dalam air. Begitu juga mereka, tidak bisa hidup tanpa hutan yang lestari. Hampir semua kebutuhan mereka seperti makanan, obat-obatan, bahan bangunan, sumber air, dan penghasilan bergantung pada ekosistem hutan (Uluk et al., 2001).  Muvut adalah istilah yang lazim mereka sebut jika pergi ke hutan untuk mengumpulkan tumbuhan diselingi dengan berburu satwa. Jangka waktunya bisa sehari hingga berbulan-bulan. Hasil dari muvut dapat dijual untuk mendapatkan uang. Dalam bertahan hidup, mereka juga melakukan perladangan atau bercocok padi sawah (Dephut, 2002). Kehidupan masyarakat adat tersebut merupakan salah satu hal unik yang sangat menarik untuk ditelusuri wisatawan, terutama para peneliti. Banyak hal yang dapat mereka telusuri mulai dari sumber daya alam hayati, sosial budaya masyarakat dayak hingga pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.

 

Destinasi Budaya, Sejarah, dan Wisata Alam

            Apau Kayan memiliki keunikan, keindahan, dan nilai kekhasan dalam kekayaan alam, budaya, dan kesenian tradisional yang dapat dijadikan destinasi kunjungan wisatawan. Menurut Undang-Undang No.10 tahun 2009, suatu daerah bisa dijadikan destinasi (tujuan) wisata jika di dalam wilayah administratif kawasan tersebut terdapat daya tarik wisata (seperti budaya, peninggalan arkeologi bersejarah maupun panorama alam), fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Berdasarkan definisi tersebut, maka dataran tinggi Apau Kayan memenuhi syarat untuk dijadikan tempat destinasi wisata. Namun demikian, beragam sarana dan prasarana harus ditambahkan untuk mengoptimalkan hasil yang diperoleh dari objek wisata tersebut. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang SPTN Wilayah III Long Ampung setidaknya telah mencatat beberapa objek wisata budaya dan wisata alam yang patut dikunjungi. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

 

1.              Batu Irang Dau

Dahulu sekitar tahun 1900, ketika kepercayaan masyarakat adalah Malang Ta’u (Animisme), batu keramat Lepo Jalan ini dipercaya dapat melindungi masyarakat dari segala bencana. Pada tahun 1902, masyarakat lalu membawa batu Irang Dau tersebut ke sebuah gunung (sekarang disebut gunung Irang Dau). Sebuah tunggul didirikan beberapa meter di tempat tersebut, lalu Batu Irang Dau diletakkan diatasnya. Awalnya batu itu berada di Long Anye sebelum akhirnya dipindahkan ke desa Metulang. Long Anye merupakan daerah asal masyarakat desa Metulang yang kini bermukim di Long Ampung. Menurut cerita, dahulu masyarakat percaya pada batu tersebut ketika roh yang ada pada batu tersebut pernah merasuki orang yang menemukannya dan berkata “Inilah aku. aku ingin menolong masyarakat bak dalam menghindarimu dari wabah penyakit, bencana kelaparan dan aku akan membuat bagimu kemarau untuk membakar ladang dan aku akan melindungi masyarakat dari segala bencana. Namaku adalah Irang Dau”.

 

2.       Monumen Perjuangan Apau Kayan.

Monumen ini berdiri kokoh di desa Nawang Baru kecamatan Kayan Hulu. Sebuah monumen perjuangan yang menggambarkan kegigihan masyarakat Apau Kayan dalam mengusir penjajah Belanda. Pada Monumen tersebut terdapat nama-nama para pejuang Apau Kayan yang terlibat langsung dalam perjuangan. Kala itu, masyarakat berhasil mengusir tentara Belanda, KNIL, dan KL dari Long Nawang sampai ke Long Boi sebelum penyerahan kedaulatan dari tangan pemerintah Hindia Belanda kepada pemerintah RI di penghujung  bulan desember 1949. 17 Agustus 1950 adalah hari bersejarah bagi masyarakat setempat karena untuk kali pertama sang saka merah putih berkibar di bumi Apau Kayan. Suasana nasionalisme dan semangat patriotisme sangat terasa hingga saat ini pada masyarakat setempat, baik tua maupun muda di setiap kali upacara kemerdekaan berlangsung.

 

3.       Kuburan Tua

          Tidak jauh dari monumen perjuangan Apau Kayan, tepatnya dekat bandara Long Nawang terdapat kuburan Lencau Ingan. Seorang tokoh adat Apau Kayan yang telah menyatukan masyarakat setempat untuk melawan penjajahan Belanda di wilayah ini. Bentuk makamnya sangat unik dan menarik, namun belum dikelola secara maksimal untuk dijadikan destinasi wisata. Selain kuburan Lencau Ingan, ada pula Kuburan Tua Uyang Lahai. Kuburan ini merupakan leluhur masyarakat suku Dayak Kenyah. Kuburan ini terletak di Hilir Desa Data Dian dan sudah mulai dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Malinau dengan membangun pondok sebanyak dua buah.

 

4.       Sungai Kayan

Bagi yang menyukai petualangan, terutama penikmat olahraga arung jeram, maka sungai Kayan adalah tempatnya. Sungai besar ini memiliki lintasan yang panjang dan berkelok-kelok seperti ular. Sepanjang sungai Kayan, di kiri-kanannya terdapat hutan hujan tropis dataran tinggi. Apabila beruntung, kita dapat melihat jenis primata endemik, monyet, biawak, hingga burung Enggang khas Kalimantan. Ada banyak giram yang terkenal di sungai ini, Seperti Giram Ben yang berada di hulu sungai Kayan, dekat desa Lidung Payau. Giram ini terdiri dari tiga tingkat yang apabila hujan lebat maka debit air semakin banyak membuat arus semakin deras. Adapula Giram Perian di jalur desa Long Nawang menuju desa Data Dian. Giram ini jika arusnya kecil sangat cocok untuk wisata arung jeram. Rute untuk wisata arung jeram yang aman adalah jalur dari desa Long Ampung menuju Data Dian. Setelah desa Data Dian terdapat giram yang tidak bisa dilalui masyarakat setempat karena berbahaya. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai “Giram Embun”. Arus deras yang bergulung-gulung mampu menelan benda apa saja sehingga membutuhkan peralatan khusus dan kemampuan tinggi untuk menyelusurinya. Arus deras itu tercatat dengan grade ½ atau tingkat kesulitan di atas rata-rata. Pada beberapa bagian tidak bisa dilewati karena terlalu curam dan tinggi sehingga air jatuh menimbulkan suara bergemuruh serta melontarkan percikan air seperti embun. Mungkin itu sebabnya masyarakat setempat menyebutnya sebagai Giram Embun. Selain Arumg Jeram, kita juga dapat berjalan menelusuri hutan dataran tinggi Apau Kayan sambil menikmati keanekaragaman flora dan fauna endemik.

5.       Seni dan Budaya

          Selain berwisata sejarah dan menikmati indahnya panorama alam, wisatawan dapat menikmati seni, budaya dan tradisi kehidupan tradisional masyarakat setempat. Seperti kerajinan ukiran, anyaman, nyanyian, musik khas Kalimantan, hingga tarian-tarian yaitu Tarian Hudok, Tarian Gerak Sama, dan Tarian Perang. Jika musim bunga tiba, wisatawan juga dapat mengikuti prosesi kegiatan panen madu yang melibatkan banyak orang di desa Data Dian.

 

Akses Menuju Lokasi

Untuk menuju lokasi dapat menggunakan pesawat Susi Air selama kurang lebih 1 jam dengan rute penerbangan Samarinda-Long Ampung dengan biaya Rp 350.000/orang, atau Tarakan-Long Ampung dengan biaya Rp 350.000/orang . Jika melalui kota Malinau dapat menggunakan rute Malinau-Long Ampung, Malinau-Long Nawang, dan Malinau-Data Dian. Jika melalui Long Ampung, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Long Nawang Kayan Hulu dan Data Dian Kayan Hilir menggunakan jasa perahu ketinting (bermuatan 6-8 orang). Biaya yang diperlukan untuk Long Ampung-Long Nawang sekitar Rp 500.000,-/ketinting, sedangkan Long Ampung-Data Dian sekitar Rp 3.500.000,-/ketinting.

 

Strategi Pengembangan Wisata

            Melihat banyaknya potensi objek wisata di tanah Apau Kayan tersebut, maka usaha pengembangan mutlak diperlukan untuk mengoptimalkan nilai jual produk wisata. Suatu obyek wisata akan memiliki kualitas produk yang baik apabila para pelaku wisata yaitu pemerintah, pengelola wisata, dan masyarakat memiliki kesiapan di dalamnya (Departemen Pariwisata & Ekonomi Kreatif, 2002). Salah satu bentuk kesiapan dari pemerintah adalah membuat akses menuju destinasi wisata tersebut menjadi mudah. Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, hingga saat ini akses menuju lokasi hanya dapat ditempuh dengan pesawat Susi Air (kapasitas 12 orang) serta MAF (4-5 orang). Oleh karena itu, salah satu cara untuk menaikkan laju wisatawan adalah meningkatkan layanan rute penerbangan ke wilayah Long Ampung, Long Nawang dan Data Dian. Hal lain yang perlu dipersiapkan juga adalah sarana prasarana di masing-masing objek wisata. Ada beberapa objek wisata seperti kuburan Uyang Lahai di Data Dian yang telah dibangun shelter dan jalan menuju lokasi. Sarana lain yang penting untuk segera dilengkapi adalah fasilitas telekomunikasi dengan tarif yang terjangkau. Di sisi lain kesiapan masyarakat juga harus ditingkatkan. Keterlibatan masyarakat lokal dapat dilakukan dengan beberapa bentuk seperti menjadi guide/pemandu wisata, bekerja sebagai karyawan pada objek wisata, atau menyediakan jasa akomodasi, konsumsi, dan transportasi (Drumm dan Alan, 2002).

 

Penutup

Saat ini Apau Kayan mulai dikenal,luas baik pengunjung lokal maupun mancanegara. Kekayaan alam, peninggalan sejarah serta ragam budayanya menjadikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata yang harus terus dijaga dan dilestarikan oleh pemerintah daerah setempat. Hingga saat ini beragam obyek wisata masih terpelihara dengan baik. Namun, pengembangan obyek wisata sangat dibutuhkan untuk meningkatkan nilai kemanfaatan secara ekonomi bagi masyarakat setempat. Kemudahan akses menuju lokasi destinasi, kelengkapan sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia yang mumpuni adalah beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan dalam usaha pengembangan obyek wisata di tanah Apau Kayan.

 

oleh : Dwi Pangestu - BTNKM 

“Bagaikan air dengan ikan. Ikan tidak bisa hidup tanpa air, ikan bernafas dan mencari makanan dalam air. Begitu juga mereka, tidak bisa hidup tanpa hutan yang lestari…”

Indonesia memiliki beragam tempat wisata yang indah nan eksotis yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Salah satu diantaranya adalah Tanah Apau Kayan. Terletak di jantung pulau Kalimantan (in the Heart of Borneo), tempat ini merupakan kawasan yang penuh dengan nuansa sejarah dan budaya. Pemandangan alam yang elok dengan udara sejuk di ketinggian sekitar 600 mdpl turut menambah daya tarik kawasan ini sebagai destinasi wisata.

Sejarah Apau Kayan

            Apau Kayan (Apo Kayan) berasal dari nama sungai besar Kayan. Dalam wilayah administratifnya saat ini termasuk ke dalam Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Kawasan ini terbagi menjadi kecamatan Kayan Selatan, Kayan Hulu, Kayan Hilir dan Sungai Boh. Beberapa desa yang telah dikenal para wisatawan antara lain Long Ampung, Long Nawang, dan Data Dian. Apau Kayan memiliki hubungan erat dengan sejarah masyarakat Dayak. Dahulu, tempat ini ditemukan oleh orang-orang Dayak Kenyah asal Lundayeh pada abad ke-16, untuk kemudian menjadikannya sebagai pusat perkampungan suku dan anak suku (uma) Dayak Kenyah. Pada abad ke-18, setelah berkembang pesat masyarakat Apau Kayan mulai eksodus dan menyebar ke wilayah Kabupaten Kutai menyusuri Sungai Mahakam, memasuki daerah Berau, terus ke hilir Sungai Kayan menuju Tanjung Peso, Tanjung Palas dan Tanjung Selor (Thomas Djuma, 2009).

 

Hutan dan Masyarakat Apau Kayan

Bagi masyarakat Apau Kayan, hutan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupannya. Bagaikan air dengan ikan. Ikan tidak bisa hidup tanpa air, ikan bernafas dan mencari makanan dalam air. Begitu juga mereka, tidak bisa hidup tanpa hutan yang lestari. Hampir semua kebutuhan mereka seperti makanan, obat-obatan, bahan bangunan, sumber air, dan penghasilan bergantung pada ekosistem hutan (Uluk et al., 2001).  Muvut adalah istilah yang lazim mereka sebut jika pergi ke hutan untuk mengumpulkan tumbuhan diselingi dengan berburu satwa. Jangka waktunya bisa sehari hingga berbulan-bulan. Hasil dari muvut dapat dijual untuk mendapatkan uang. Dalam bertahan hidup, mereka juga melakukan perladangan atau bercocok padi sawah (Dephut, 2002). Kehidupan masyarakat adat tersebut merupakan salah satu hal unik yang sangat menarik untuk ditelusuri wisatawan, terutama para peneliti. Banyak hal yang dapat mereka telusuri mulai dari sumber daya alam hayati, sosial budaya masyarakat dayak hingga pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.

 

Destinasi Budaya, Sejarah, dan Wisata Alam

            Apau Kayan memiliki keunikan, keindahan, dan nilai kekhasan dalam kekayaan alam, budaya, dan kesenian tradisional yang dapat dijadikan destinasi kunjungan wisatawan. Menurut Undang-Undang No.10 tahun 2009, suatu daerah bisa dijadikan destinasi (tujuan) wisata jika di dalam wilayah administratif kawasan tersebut terdapat daya tarik wisata (seperti budaya, peninggalan arkeologi bersejarah maupun panorama alam), fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Berdasarkan definisi tersebut, maka dataran tinggi Apau Kayan memenuhi syarat untuk dijadikan tempat destinasi wisata. Namun demikian, beragam sarana dan prasarana harus ditambahkan untuk mengoptimalkan hasil yang diperoleh dari objek wisata tersebut. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang SPTN Wilayah III Long Ampung setidaknya telah mencatat beberapa objek wisata budaya dan wisata alam yang patut dikunjungi. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

 

1.              Batu Irang Dau

Dahulu sekitar tahun 1900, ketika kepercayaan masyarakat adalah Malang Ta’u (Animisme), batu keramat Lepo Jalan ini dipercaya dapat melindungi masyarakat dari segala bencana. Pada tahun 1902, masyarakat lalu membawa batu Irang Dau tersebut ke sebuah gunung (sekarang disebut gunung Irang Dau). Sebuah tunggul didirikan beberapa meter di tempat tersebut, lalu Batu Irang Dau diletakkan diatasnya. Awalnya batu itu berada di Long Anye sebelum akhirnya dipindahkan ke desa Metulang. Long Anye merupakan daerah asal masyarakat desa Metulang yang kini bermukim di Long Ampung. Menurut cerita, dahulu masyarakat percaya pada batu tersebut ketika roh yang ada pada batu tersebut pernah merasuki orang yang menemukannya dan berkata “Inilah aku. aku ingin menolong masyarakat bak dalam menghindarimu dari wabah penyakit, bencana kelaparan dan aku akan membuat bagimu kemarau untuk membakar ladang dan aku akan melindungi masyarakat dari segala bencana. Namaku adalah Irang Dau”.

 

2.       Monumen Perjuangan Apau Kayan.

Monumen ini berdiri kokoh di desa Nawang Baru kecamatan Kayan Hulu. Sebuah monumen perjuangan yang menggambarkan kegigihan masyarakat Apau Kayan dalam mengusir penjajah Belanda. Pada Monumen tersebut terdapat nama-nama para pejuang Apau Kayan yang terlibat langsung dalam perjuangan. Kala itu, masyarakat berhasil mengusir tentara Belanda, KNIL, dan KL dari Long Nawang sampai ke Long Boi sebelum penyerahan kedaulatan dari tangan pemerintah Hindia Belanda kepada pemerintah RI di penghujung  bulan desember 1949. 17 Agustus 1950 adalah hari bersejarah bagi masyarakat setempat karena untuk kali pertama sang saka merah putih berkibar di bumi Apau Kayan. Suasana nasionalisme dan semangat patriotisme sangat terasa hingga saat ini pada masyarakat setempat, baik tua maupun muda di setiap kali upacara kemerdekaan berlangsung.

 

3.       Kuburan Tua

          Tidak jauh dari monumen perjuangan Apau Kayan, tepatnya dekat bandara Long Nawang terdapat kuburan Lencau Ingan. Seorang tokoh adat Apau Kayan yang telah menyatukan masyarakat setempat untuk melawan penjajahan Belanda di wilayah ini. Bentuk makamnya sangat unik dan menarik, namun belum dikelola secara maksimal untuk dijadikan destinasi wisata. Selain kuburan Lencau Ingan, ada pula Kuburan Tua Uyang Lahai. Kuburan ini merupakan leluhur masyarakat suku Dayak Kenyah. Kuburan ini terletak di Hilir Desa Data Dian dan sudah mulai dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Malinau dengan membangun pondok sebanyak dua buah.

 

4.       Sungai Kayan

Bagi yang menyukai petualangan, terutama penikmat olahraga arung jeram, maka sungai Kayan adalah tempatnya. Sungai besar ini memiliki lintasan yang panjang dan berkelok-kelok seperti ular. Sepanjang sungai Kayan, di kiri-kanannya terdapat hutan hujan tropis dataran tinggi. Apabila beruntung, kita dapat melihat jenis primata endemik, monyet, biawak, hingga burung Enggang khas Kalimantan. Ada banyak giram yang terkenal di sungai ini, Seperti Giram Ben yang berada di hulu sungai Kayan, dekat desa Lidung Payau. Giram ini terdiri dari tiga tingkat yang apabila hujan lebat maka debit air semakin banyak membuat arus semakin deras. Adapula Giram Perian di jalur desa Long Nawang menuju desa Data Dian. Giram ini jika arusnya kecil sangat cocok untuk wisata arung jeram. Rute untuk wisata arung jeram yang aman adalah jalur dari desa Long Ampung menuju Data Dian. Setelah desa Data Dian terdapat giram yang tidak bisa dilalui masyarakat setempat karena berbahaya. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai “Giram Embun”. Arus deras yang bergulung-gulung mampu menelan benda apa saja sehingga membutuhkan peralatan khusus dan kemampuan tinggi untuk menyelusurinya. Arus deras itu tercatat dengan grade ½ atau tingkat kesulitan di atas rata-rata. Pada beberapa bagian tidak bisa dilewati karena terlalu curam dan tinggi sehingga air jatuh menimbulkan suara bergemuruh serta melontarkan percikan air seperti embun. Mungkin itu sebabnya masyarakat setempat menyebutnya sebagai Giram Embun. Selain Arumg Jeram, kita juga dapat berjalan menelusuri hutan dataran tinggi Apau Kayan sambil menikmati keanekaragaman flora dan fauna endemik.

5.       Seni dan Budaya

          Selain berwisata sejarah dan menikmati indahnya panorama alam, wisatawan dapat menikmati seni, budaya dan tradisi kehidupan tradisional masyarakat setempat. Seperti kerajinan ukiran, anyaman, nyanyian, musik khas Kalimantan, hingga tarian-tarian yaitu Tarian Hudok, Tarian Gerak Sama, dan Tarian Perang. Jika musim bunga tiba, wisatawan juga dapat mengikuti prosesi kegiatan panen madu yang melibatkan banyak orang di desa Data Dian.

 

Akses Menuju Lokasi

Untuk menuju lokasi dapat menggunakan pesawat Susi Air selama kurang lebih 1 jam dengan rute penerbangan Samarinda-Long Ampung dengan biaya Rp 350.000/orang, atau Tarakan-Long Ampung dengan biaya Rp 350.000/orang . Jika melalui kota Malinau dapat menggunakan rute Malinau-Long Ampung, Malinau-Long Nawang, dan Malinau-Data Dian. Jika melalui Long Ampung, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Long Nawang Kayan Hulu dan Data Dian Kayan Hilir menggunakan jasa perahu ketinting (bermuatan 6-8 orang). Biaya yang diperlukan untuk Long Ampung-Long Nawang sekitar Rp 500.000,-/ketinting, sedangkan Long Ampung-Data Dian sekitar Rp 3.500.000,-/ketinting.

 

Strategi Pengembangan Wisata

            Melihat banyaknya potensi objek wisata di tanah Apau Kayan tersebut, maka usaha pengembangan mutlak diperlukan untuk mengoptimalkan nilai jual produk wisata. Suatu obyek wisata akan memiliki kualitas produk yang baik apabila para pelaku wisata yaitu pemerintah, pengelola wisata, dan masyarakat memiliki kesiapan di dalamnya (Departemen Pariwisata & Ekonomi Kreatif, 2002). Salah satu bentuk kesiapan dari pemerintah adalah membuat akses menuju destinasi wisata tersebut menjadi mudah. Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, hingga saat ini akses menuju lokasi hanya dapat ditempuh dengan pesawat Susi Air (kapasitas 12 orang) serta MAF (4-5 orang). Oleh karena itu, salah satu cara untuk menaikkan laju wisatawan adalah meningkatkan layanan rute penerbangan ke wilayah Long Ampung, Long Nawang dan Data Dian. Hal lain yang perlu dipersiapkan juga adalah sarana prasarana di masing-masing objek wisata. Ada beberapa objek wisata seperti kuburan Uyang Lahai di Data Dian yang telah dibangun shelter dan jalan menuju lokasi. Sarana lain yang penting untuk segera dilengkapi adalah fasilitas telekomunikasi dengan tarif yang terjangkau. Di sisi lain kesiapan masyarakat juga harus ditingkatkan. Keterlibatan masyarakat lokal dapat dilakukan dengan beberapa bentuk seperti menjadi guide/pemandu wisata, bekerja sebagai karyawan pada objek wisata, atau menyediakan jasa akomodasi, konsumsi, dan transportasi (Drumm dan Alan, 2002).

 

Penutup

Saat ini Apau Kayan mulai dikenal,luas baik pengunjung lokal maupun mancanegara. Kekayaan alam, peninggalan sejarah serta ragam budayanya menjadikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata yang harus terus dijaga dan dilestarikan oleh pemerintah daerah setempat. Hingga saat ini beragam obyek wisata masih terpelihara dengan baik. Namun, pengembangan obyek wisata sangat dibutuhkan untuk meningkatkan nilai kemanfaatan secara ekonomi bagi masyarakat setempat. Kemudahan akses menuju lokasi destinasi, kelengkapan sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia yang mumpuni adalah beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan dalam usaha pengembangan obyek wisata di tanah Apau Kayan.



Copyright © 2013 by PDE Malinau All rights reserved.