Rabu, 27 November 2013 - 07:15:44 WIB
Tana Ulen Bahau Hulu
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Pariwisata - Dibaca: 15653 kali

Desa Long Alango di Kecamatan Bahau Hulu merupakan daerah yang banyak dihuni suku Kenyah Leppo’ Ma’ut yang telah bermukim sejak tahun 1957-1968, mereka diperkirakan berasal dari dataran Cina. Desa Long Alango juga termasuk dalam Wilayah Persekutuan Adat Hulu Bahau, berbatasan di sebelah hulu Sungai Bahau dengan Desa Long Kemuat dan di sebelah hilir dengan Desa Long Tebulo.

Sekitar tahun 1940-an di desa Long Kemuat membuka lahan disekitar Sungai Lango, karena areal hutan di sekitar Long Kemuat hutannya semakin terbatas. Dan pada sekitar tahun itu juga Kepala adat besar waktu itu (Apui Njau) mengajak masyarakat untuk mencoba menggarap sawah dan hingga pada akhirnya Kepala Adat Besar Bahau Hulu menetapkan lahan perladangan itu sebagai salah satu kawasan Tana Ulen’ kawasan Long Alango.

Masyarakat disekitar kawasan merupakan masyarakat adat dimana hukum adat menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari serta dalam hal  pemanfaatan sumber daya alam. Lembaga hukum adat memungkinkan masyarakat untuk lebih memahami adat yang mengatur kegiatan mereka sehari-hari, sehingga masyarakat selalu berpedoman pada lembaga hukum adat dalam pengambilan keputusan.

Tana Ulen’ masyarakat atau “tanah adat” itu memiliki arti tanah yang dilindungi, dijaga kelestariannya dan hasil hutannya, dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat sesuai hokum adat yang berlaku. Tana Ulen’ didalam wilayah masyarakat suku Kenyah pada umumnya dan suku Leppo Ma’ut khususnya sudah dibuat secara turun temurun, sampai kini dipertahankan dengan nama Tana Ulen’ masyarakat adat (Lahang 1999). Sedangkan menurut Kondarus (1999) Tana Ulen’ berupa kawasan tanah yang keberadaannya diperuntukan  bagi kaum paren (bangsawan) yang menjadi pengusaha di desa tersebut, dan dijadikan tempat simpanan atau cadangan sumberdaya alam yang dapat diambil sewaktu-waktu sesuai kepingan kaum paren.

Begitupun di desa Long Alango masyarakat adatnya menganggap tana ulen’ yang mereka miliki terletak di aliran sungai Nggeng di mulen oleh Apui Njau selaku kepala adat besar Hulu Bahau. Adapun fungsi dari tana ulen’ adalah untuk cadangan ikan, hasil buruan dan hasil hutan lainnya bagi kepentingan pesta dan kebutuhan bahan bangunan untuk warga desa. Sedangkan untuk pengambilan hasil hutan Tana Ulen’ di tentukan waktu khusus dan alasan khusus yang disebut buka ulen.

Pada tahun 1960-an, tana ulen akhirnya berubah statusnya menjadi milik desa (disebut Tana Ulen Leppo) yang kemudian dikuatkan dengan SK dari Gubernur Kalimantan Timur pada tahun 1997. Maka tanah Tana Ulen Leppo dijaga dan dikelola dengan seksama untuk kepentingan bersama warga desa, berupa sebagian sumber daya alam seperti bahan bangunan, bahan pangan, dan HHNK bernilai ekonomi.

Dalam pengelolaan Tana Ulen Leppo oleh desa, terdapat sejumlah aturan yang harus dipenuhi bersama oleh warganya secara ketat. Hasil hutan diambil pada waktu-waktu tertentu yang disebut buka ulen, yang tidak mengikuti kalender tetapi mengikuti kalender perladangan, yang khusus dibuat untuk kepentingan desa. Hal-hal yang tidak diperbolehkan seperti warga desa untuk ngusa (mengambil atau mengusahakan hasil hutan) diluar waktu buka ulen atau melewati batas waktu buka ulen, dan masuknya warga lain tanpa izin pimpinan desa ataupun kepala desa, baik pada saat buka ulen maupun diluar dan memotong rotan yang masih muda atau menebang pohon kayu manis yang masih muda. Pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan Tana Ulen Leppo dikenakan sanksi yang disesuaikan dengan jenis pelanggaran. Jika pelanggaran dilakukan  oleh warga di luar desa, maka dapat dikenakan sanksi lebih berat. Demikian juga  kaum paren, pimpinan atau aparat desa karena mereka berasal dari keluarga yang mensponsori adanya Tana Ulen Leppo, yaitu golongan yang seharusnya menjadi teladan bagi warga desa lainnya (Farida - BTNKM).



Copyright © 2013 by PDE Malinau All rights reserved.