Senin, 16 Desember 2013 - 10:26:34 WIB
Padang Rumput Long Tua
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Konservasi - Dibaca: 2594 kali

Saat ini, banyaknya kekhawatiran yang timbul terhadap hilangnya hutan tropis berasal dari meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan sebagai gudang keanekaragaman hayati. Akan tetapi pengetahuan tentang keadaan/status dan luasan keanekaragaman hayati yang hilang akibat gangguan hutan masih sangat terbatas.

Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) ditetapkan pertama kali pada tahun 1980 sebagai Cagar Alam oleh Menteri Pertanian Indonesia. Kemudian pada tahun 1996, atas desakan masyarakat lokal (adat) dan rekomendasi dari WWF (World Wide Fund), kawasan ini diubah statusnya menjadi Taman Nasional agar kepentingan masyarakat lokal dapat diakomodasikan.

 TNKM memiliki kawasan hutan primer dan skunder tua terbesar yang masih tersisa di Pulau Borneo dan kawasan Asia Tenggara. Nama Kayan Mentarang diambil dari dua nama sungai penting yang ada di kawasan taman nasional, yaitu Sungai Kayan di sebelah selatan dan Sungai Mentarang di sebelah utara. Sumber lain menyebutkan bahwa nama tersebut diambil dari nama dataran tinggi di pegunungan setempat yang bernama Apau Kayan yang membentang luas (mentarang) dari daerah Data Dian / Long Kayan di selatan melewati Apau Ping di tengah dan Long Bawan di utara. Dengan luas lahan sekitar 1,35 juta hektare, hamparan hutan ini membentang di bagian utara Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di wilayah Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Nunukan, berbatasan langsung dengan Sabah dan Sarawak, Malaysia. Sebagian besar kawasan masuk dalam Kabupaten Malinau dan sebagian lagi masuk dalam Kabupaten Nunukan. Potensi wisata di Taman Nasional Kayan Mentarang ialah Hulu Bahau, Hulu Krayan dan Hulu Kayan/Datadian.

Keberadaan TNKM sangat unik oleh karena itu diperlukan pengelolaan yang beberapa aspeknya bersipat baru (inovatif). Sasaran pengelolaan yang direkomendasikan adalah melestarikan tumbuhan dan satwa serta habitat alam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang untuk kepentingan masyarakat melalui pemanfaatan secara berkelanjutan, baik itu pemanfaatan sumber daya alam hayati oleh masyarakat setempat seperti pendidikan, penelitian, pariwisata, dan rekreasi berbasiskan pada suatu pendekatan pengelolaan bersama.

Untuk mencapai sasaran ini maka tujuan pengelolaan TNKM adalah menjamin bahwa pemanfaatan tumbuhan dan satwa yang dilakukan oleh masyarakat setempat secara berkelanjutan, membangun dan mempertahankan sistem pengelolaan bersama dengan masyarakat dan pemerintah setempat, serta mengoptimalkan kesempatan pendidikan,  penelitian, pariwisata, dan rekreasi yang cocok dengan pelestarian (konservasi) dan pemanfaatan sumber daya alam secara tradisional.

Salah satu prioritas tertinggi dalam kegiatan pengelolaan habitat adalah melanjutkan pembakaran Padang Rumput Long tua yang terdapat di Desa Apauping secara teratur guna meningkatkan daya dukung habitat Banteng (Bos javanicus) dan satwa pemakan rumput (herbivora) lainnya meskipun ini juga sudah sering dilakukan oleh masyarakat setempat pada musim kemarau.

Padang rumput Long Tua merupakan kawasan konservasi Taman Nasional Kayan Mentarang yang terletak di Desa Apauping di Kecamatan Bahau Hulu Kabupaten Malinau, kawasan ini merupakan tempat habitat Banteng ( Bos javanicus) yang keberadaannya sangat langka dan merupakan satwa yang hampir punah saat ini.

Perjalanan yang akan ditempuh menuju Ke padang Rumput Long Tua begitu menantang dan sangat mengasyikkan bercampur dengan menegangkan, dengan mengunakan longboat dari Tanjung Selor, Bulungan melalui sungai bahau dengan jiram-jiramnya yang sangat memacu adrenalin sampai ke kecamatan Pujungan sekitar satu hari penuh, kita tidak bisa langsung melanjutkan perjalanan dan harus menginap di Pujungan, besok harinya baru dilanjutkan lagi dengan mengunakan ketinting ke desa Apauping selama ± 5-6 jam, disini kita akan melewati  jiram Kerabang yang sangat berbahaya dan penumpang harus berjalan kaki sekitar 2 kilo meter melewati pingiran sungai karena di jiram ini perahu yang kita naiki ditarik secara manual oleh para juru mudi (motoris perahu tempel) dan juru batu. Bukan hanya satu jiram saja yang dilewati, namun banyak jiram yang harus kita lewati.

Sesampainya di Desa Apau Ping kita menginap satu malam, kemudian besoknya dilanjutkan dengan mengunakan ketinting lagi selama 2 jam ke Long Tua. Sepanjang perjalanan kita ditemani kicauan burung Enggang yang hilir mudik beterbangan di atas pohon yang seolah menyambut kedatangan kita. Tumpukan-tumpukan batu dengan berbagai bentuk merupakan suatu pemandangan yang begitu menarik. Belum lagi pemandangan alamnya yang begitu indah serta hamparan hutan yang masih asli serta bau bunga-bunga pepohonan menjadikan perjalanan kita menuju padang rumput Long Tua merupakan pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Di pinggiran sungai Long Tua kita dapati pondok yang sangat sederhana yang disiapkan bagi pengunjung yang mau menginap disana.

Dari pondok kita dapat berjalan kaki ke padang rumput sekitar  ±1 kilometer, bagi para pengunjung yang hendak mengamati  kawanan Banteng serta mamalia lainnya hendaknya pada pagi sekitar jam 5 - 6 pagi setelah itu padang akan sepi kembali, sedangkan pada sore hari hendak pada jam 5 sore sampai matahari terbenam. Pada pagi dan sore hari akan kita jumpai kelompok-kelompok Banteng (Bos javanicus)  dan mamalia lain seperti Rusa (Cervus sp.), Kijang (Muntiacus muntjak) dan Kancil/Pelanduk (Tragulus sp.).

Dipadang Rumput Long Tua ini di berlakukan juga hukum adat. Siapa saja yang berburu di Padang Rumput ini akan di kenakan denda adat. Baik itu masyarakat lokal maupun dari luar. Maka dar itu Long Tua sangat cocok dijadikan Kawasan Konservasi. Masyarakat sadar betul akan pentingnya Padang Rumput ini bagi kelangsungan habitat yang ada didalam kawasan tersebut khususnya Banteng (Edo - BTNKM)



Copyright © 2013 by PDE Malinau All rights reserved.